Friday, December 25, 2009

Tangga Lagu Indonesia Terbaru Desember 2009

1 Ello Ipang Berry(st.Loco)Lala – Buka Semangat Baru
2 Gigi – Sang Pemimpi 
3 DMasiv ft. Kevin Aprilio – Rindu Setengah Mati(Ost.KejoraBintang)
4 BCL – Karena Kucinta Kau ost Bayu Cinta Luna
5 Warteg Boys – Okelah Kalo Begitu
6 Geisha – Takkan Pernah Ada
7 Goliath – Masih Disini Denganmu (MD2) 
8 Nidji – Sang Mantan
9 Lyla – Jantung Hati
10 The Sister – Jauh Di Mata Dekat Di Hati
11 Zigaz – Sahabat Jadi Cinta 
12 Gita Gutawa ft.Maia – Malu Tapi Mau
13 Krisdayanti – Kamu Di Hatiku Selamanya
14 Anang – Separuh Jiwaku Pergi 
15 Sembilan – Hafizah
16 Krisdayanti – Aku Wanita Biasa
17 Candil ft. Saykoji – Senandung Rindu (ost.Selendang Rocker)
18 D Masiv – Syair Dunia
19 Armada – Buka Hatimu
20 ST 12 – Biarkan Jatuh Cinta
21 Ari Lasso – Cintai Aku Sepenuh Hati
22 Wali – Baik Baik Sayang
23 She – Jomblowati
24 Firman – Kehilangan
25 T2 – Ceraikan Saja
26 Vierra – Perih
27 Sherina – Cinta Pertama Dan Terakhir
28 Gigi – My Facebook
29 Mikha Tambayong – Cinta Pertama (OST Kepompong)
30 Raffi ft. Bella – Jodoh Di tangan Tuhan (JOHAN)
31 Angkasa – Jangan Ada Dusta Diantara Kita
32 Ungu – Cinta Gila (ost.Sang Pemimpi)
33 The Dance Company – Coba Kau Bayangkan
34 Armada – Mau Dibawa Kemana 
35 Project Pop – Batal Kawin
36 Seventeen – Cinta Tak Bertuan
37 Wali – Yank
38 The Potters – Aw Aw
39 MU Band – Apa Sih Maumu
40 Cinta Kuya – Ulat Dan Kepompong 
41 J Rocks – Meraih Mimpi 
42 Numata – Pesona
43 Five Minutes – Teman Biasa 
44 Eren – Takkan Pisah 
45 Ungu – Luka Disini 
46 Peewee Gaskins – Dibalik Hari Esok
47 Zigaz – Hidupmu Hidupku 
48 Geisha – Jika Cinta Dia
49 Geisha – Kamu Yang Pertama
50 Vierra – Rasa Ini
51 Blackout – Goodbye
52 Anang – Hujan Pun Menangis
53 Mahadewi ft The Law – Ayang Ayangku
54 AOP – Bodohnya Diriku 
55 Thalita Latief – Aw Aw Awas 
56 Ran – Jadi Gila
57 Alexa – Sampai Kapan
58 Ashanty – Dulu
59 Dewa – Bukan Cinta Manusia Biasa
60 Geisha – Cintaku Hilang
read more...

Tuesday, December 15, 2009

Mendiknas: UN Jangan Dijadikan Eksperimen Pembuktian Kecurangan



Mendiknas: UN Jangan Dijadikan Eksperimen Pembuktian Kecurangan



Pekanbaru, Sabtu (5 Desember 2009) –

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh meminta untuk menyiapkan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) Tahun Pelajaran 2009/2010 dengan baik. Pemerintah daerah diperbolehkan untuk mencanangkan target kelulusan para siswa pada UN yang akan diselenggarakan pada Maret 2010.

"Gubernur, bupati, dan kepala dinas boleh mencanangkan (target kelulusan) 100 persen. Caranya untuk mencapai (kelulusan) 90 persen atau 100 persen sama dengan kita punya target ingin pergi haji. Tidak ada yang melarang, tapi yang tidak boleh itu untuk mencapai pergi haji itu pakai (cara) nakal - nakal," kata Mendiknas pada Silaturahmi Kerja Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Orwil Riau Tahun 2009, di Hotel Pangeran Pekanbaru, Riau, Sabtu (5/12/2009).

Mendiknas meminta untuk mengawal pelaksanaan UN agar dapat berjalan secara bersih dan jujur. "Dari situlah cermin potensi anak - anak kita. ICMI kita harapkan mampu mengawal nilai kejujuran. Jangan sekali - kali UN itu dijadikan sebagai eksperimen lapangan untuk pembuktian kecurangan," katanya.

Mendiknas menyampaikan ada empat syarat lulus UN. Pertama, siswa telah menyelesaikan seluruh program pembelajaran. Kedua, dinyatakan lulus oleh guru dan kepala sekolah yang dinilai dari aspek moralitas. Syarat ketiga lulus ujian sekolah, dan syarat terakhir lulus UN. "Kalau empat - empatnya lulus maka luluslah dia, sehingga kalau ada yang mengatakan bahwa UN satu - satunya (syarat), bukan," katanya menjawab pertanyaan wartawan usai acara.

Mendiknas dalam kunjungan kerjanya ke Riau memberikan perhatian khusus kepada siswa sekolah luar biasa (SLB). Saat meninjau SLB Sri Mujinab Pekanbaru, Riau, Mendiknas memberikan motivasi dan dorongan kepada para siswa dan guru. "Insya Allah mereka orang - orang yang ikhas ikut mencerdaskan bangsa. Oleh karena itu, kita berikan perhatian secara khusus. Kalau ada pengangkatan pegawai negeri bisa diprioritaskan ditempatkan di sini, " katanya.

Mendiknas meminta, agar pemerintah mulai dari pemerintah pusat pemerintah provinsi sampai dengan pemerintah kabupaten tidak menganaktirikan, baik itu sekolah SLB maupun sekolah umum biasa, negeri maupun swasta.

Sementara, pada kunjungan berikutnya ke SMKN 1 Pekanbaru, Riau, Mendiknas, mengajak para siswa untuk merawat sekolah. Mendiknas menyebutkan, ada tiga hal yang harus dirawat di sekolah yaitu lingkungan, hubungan guru dengan murid, dan keilmuan atau keterampilan. "Cara merawat ilmu dengan belajar dan belajar. Ciri orang yang merawat ilmunya dengan baik itu (ketika) diuji kapanpun dan diuji oleh siapapun tidak pernah mengeluh. Jangankan diuji bapak ibu guru di tingkat sekolah, diuji oleh kabupaten pun siap, diuji oleh provinsi pun siap, diuji secara nasional pun siap, bahkan (diuji secara) internasional," katanya.

Pada kunjungan berikutnya ke Yayasan Masmur Mendiknas melihat fasilitas sekolah bengkel praktek sepeda motor dan mesin mobil. Yayasan Masmur menaungi Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Azhar, SMK Multi Mekanik, SMP, MTs, MAS. Yayasan ini berencana meningkatkan STAI Al-Azhar jadi universitas.

Kepada para siswa, Mendiknas meminta agar belajar untuk menghadapi ujian. "Bulan Maret (2010) ujian. Siapkan dengan baik. Saya doakan adik - adik yang akan ujian bisa sukses semua," ujarnya.

Kunjungan diakhiri dengan sosialisasi program kerja Mendiknas di Universitas Riau. Tema acara yang dihadiri beberapa universitas di Sumatera menggunakan fasilitas video conference ini adalah Kebijakan Pendidikan Nasional 2010 - 2014.***

Sumber: Pers Depdiknas

read more...

Mendiknas: Seseorang Dituntut Memiliki Keseimbangan Literasi


Mendiknas: Seseorang Dituntut Memiliki Keseimbangan Literasi 


Jakarta, Selasa (8 Desember 2009) –

Seseorang tidak hanya dituntut untuk memiliki literasi dalam bentuk ekspresi fisik saja. Lebih dari itu, dia dituntut untuk memiliki keseimbagan literasi dalam bentuk kecerdasan mata hati.

"Bisa jadi seseorang itu tidak mampu membaca dan menulis, memahami ilmu - ilmu yang terkodifikasi, tetapi dia mampu memahami hakekat kehidupan. Dia pun juga punya ilmu, hanya saja keaksaraannya tidak dalam bentuk keaksaraan fisikal literasi, tetapi keaksaraannya dalam bentuk ketajaman mata hati," kata Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh pada kegiatan Temu Nasional 'Aksara Membangun Peradaban' di Depdiknas, Jakarta, Selasa, (5/12/2009) malam.

Mendiknas mengatakan, kemampuan membaca dan menulis tetap penting karena dengan kemampuan membaca dan menulis itu berarti seseorang memiliki semakin banyak pintu - pintu untuk memasuki rumah - rumah keilmuan. Namun, lanjut Mendiknas, meminjam istilah penulis dan futurolog Amerika, Alvin Toffler, iliterasi pada abad ke-21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi mereka yang tidak bisa learn, unlearn, dan relearn. "Kata dasarnya adalah belajar," ujarnya.

Lebih lanjut, kepada 300 peserta Temu Nasional, Mendiknas menjelaskan, dengan pergeseran membaca dan menulis ke belajar itu maka seseorang tidak lagi terikat dan terbatas pada kemampuan memahami fenomena - fenomena keilmuan yang terkodifikasi saja. "Dia pun juga dituntut untuk bisa memahami keilmuan - keilmuan yang tidak terkodifikasi atau tacit," katanya.

"Saudara - saudara kita yang mungkin bisa jadi mengalami disability di dalam membaca dan menulis karena persoalan fisik, tetapi bisa jadi mereka memiliki ketajaman hati yang jauh lebih tajam dibandingkan dengan kita yang bisa membaca dan menulis karena saudara - saudara kita justru memanfaatkan tacit-nya itu sebagai salah satu pintu masuk ke dalam dunia keilmuannya," kata Mendiknas.

Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal (Dirjen PNFI) Depdiknas Hamid Muhammad menyampaikan, kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya mengevaluasi kinerja gerakan nasional pemberantasan buta aksara sesuai dengan target yang diamanatkan dalam Inpres No.5 Tahun 2006 tentang gerakan nasional percepatan penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun dan pemberantasan buta aksara (GNP-PWB/PBA) sekaligus dalam rangka sosialisasi hasil - hasil pengembangan pendidikan keaksaraan selama ini.

Hamid menjelaskan, pendidikan keaksaraan adalah komitmen internasional yang tertuang dalam deklarasi Dakkar yang mengamanatkan untuk menurunkan separuh jumlah penduduk buta aksara di masing - masing negara anggota UNESCO pada tahun 2015. Kebijakan ini, kata dia, direspon oleh Pemerintah Indonesia dengan dikeluarkannya Inpres No.5 Tahun 2006 tersebut, serta penyediaan anggaran yang cukup signifikan selama empat tahun terakhir ini. "Target pengurangan jumlah penduduk buta aksara usia 15 tahun ke atas menjadi 5 persen," katanya.

Lebih lanjut Hamid mengatakan, penurunan angka buta aksara tersebut merupakan hasil dari program percepatan pemberantasan buta aksara yang diselenggarakan di seluruh tanah air antara lain pemberantasan buta aksara (PBA) di daerah transmigrasi, pesisir, sekitar hutan, kepulauan, dan perbatasan. Selain itu, PBA bagi masyarakat perkotaan yang belum terlayani, PBA bagi santri pesantren tradisional dan PBA bagi komunitas adat terpencil dan tertinggal.

Hamid menyebutkan, kebanyakan penduduk dewasa yang buta aksara adalah perempuan. "Jumlahnya sekitar 63 persen," katanya.

Oleh karena itu, kata Hamid, dalam pendidikan keaksaraan ini diintegrasikan pula afirmasi bagi pemberdayaan perempuan melalui kewirausahaan perempuan berbasis potensi lokal, pendidikan kecakapan hidup bagi perempuan marginal, pendidikan keluarga berwawasan gender, dan pendidikan pencegahan tindak pidana perdagangan orang. "Pendidikan keaksaraan mengutamakan kemitraan dengan berbagai lembaga instansi terkait termasuk memanfaatkan struktur pemerintahan hingga level terbawah," katanya.

Hamid menyebutkan, pendidikan keaksaraan juga diselenggarakan bekerjasama denga berbagai mitra seperti tim penggerak PKK, Muslimat NU, Aisyiyah, Kowani, lembaga Al-kitab, perguruan tinggi, perusahaan, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan lainya.

Hamid mengatakan, mulai tahun 2009 Indonesia menerapkan pendidikan keaksaraan untuk pemberdayaan atau literacy initiative for empowerement bersama UNESCO. "Prinsipnya adalah mengintegrasikan kegiatan pemberantasan buta aksara dengan kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan pelestarian lingkungan hidup. Untuk itu, fokus pendidikan keaksaraan mulai tahun 2010 nanti adalah pendidikan keaksaraan berbasis pemberdayaan masyarakat," imbuhnya.***

Sumber: Pers Depdiknas

read more...

Mendiknas: Seseorang Dituntut Memiliki Keseimbangan Literasi


Mendiknas: Seseorang Dituntut Memiliki Keseimbangan Literasi 


Jakarta, Selasa (8 Desember 2009) –

Seseorang tidak hanya dituntut untuk memiliki literasi dalam bentuk ekspresi fisik saja. Lebih dari itu, dia dituntut untuk memiliki keseimbagan literasi dalam bentuk kecerdasan mata hati.

"Bisa jadi seseorang itu tidak mampu membaca dan menulis, memahami ilmu - ilmu yang terkodifikasi, tetapi dia mampu memahami hakekat kehidupan. Dia pun juga punya ilmu, hanya saja keaksaraannya tidak dalam bentuk keaksaraan fisikal literasi, tetapi keaksaraannya dalam bentuk ketajaman mata hati," kata Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh pada kegiatan Temu Nasional 'Aksara Membangun Peradaban' di Depdiknas, Jakarta, Selasa, (5/12/2009) malam.

Mendiknas mengatakan, kemampuan membaca dan menulis tetap penting karena dengan kemampuan membaca dan menulis itu berarti seseorang memiliki semakin banyak pintu - pintu untuk memasuki rumah - rumah keilmuan. Namun, lanjut Mendiknas, meminjam istilah penulis dan futurolog Amerika, Alvin Toffler, iliterasi pada abad ke-21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi mereka yang tidak bisa learn, unlearn, dan relearn. "Kata dasarnya adalah belajar," ujarnya.

Lebih lanjut, kepada 300 peserta Temu Nasional, Mendiknas menjelaskan, dengan pergeseran membaca dan menulis ke belajar itu maka seseorang tidak lagi terikat dan terbatas pada kemampuan memahami fenomena - fenomena keilmuan yang terkodifikasi saja. "Dia pun juga dituntut untuk bisa memahami keilmuan - keilmuan yang tidak terkodifikasi atau tacit," katanya.

"Saudara - saudara kita yang mungkin bisa jadi mengalami disability di dalam membaca dan menulis karena persoalan fisik, tetapi bisa jadi mereka memiliki ketajaman hati yang jauh lebih tajam dibandingkan dengan kita yang bisa membaca dan menulis karena saudara - saudara kita justru memanfaatkan tacit-nya itu sebagai salah satu pintu masuk ke dalam dunia keilmuannya," kata Mendiknas.

Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal (Dirjen PNFI) Depdiknas Hamid Muhammad menyampaikan, kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya mengevaluasi kinerja gerakan nasional pemberantasan buta aksara sesuai dengan target yang diamanatkan dalam Inpres No.5 Tahun 2006 tentang gerakan nasional percepatan penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun dan pemberantasan buta aksara (GNP-PWB/PBA) sekaligus dalam rangka sosialisasi hasil - hasil pengembangan pendidikan keaksaraan selama ini.

Hamid menjelaskan, pendidikan keaksaraan adalah komitmen internasional yang tertuang dalam deklarasi Dakkar yang mengamanatkan untuk menurunkan separuh jumlah penduduk buta aksara di masing - masing negara anggota UNESCO pada tahun 2015. Kebijakan ini, kata dia, direspon oleh Pemerintah Indonesia dengan dikeluarkannya Inpres No.5 Tahun 2006 tersebut, serta penyediaan anggaran yang cukup signifikan selama empat tahun terakhir ini. "Target pengurangan jumlah penduduk buta aksara usia 15 tahun ke atas menjadi 5 persen," katanya.

Lebih lanjut Hamid mengatakan, penurunan angka buta aksara tersebut merupakan hasil dari program percepatan pemberantasan buta aksara yang diselenggarakan di seluruh tanah air antara lain pemberantasan buta aksara (PBA) di daerah transmigrasi, pesisir, sekitar hutan, kepulauan, dan perbatasan. Selain itu, PBA bagi masyarakat perkotaan yang belum terlayani, PBA bagi santri pesantren tradisional dan PBA bagi komunitas adat terpencil dan tertinggal.

Hamid menyebutkan, kebanyakan penduduk dewasa yang buta aksara adalah perempuan. "Jumlahnya sekitar 63 persen," katanya.

Oleh karena itu, kata Hamid, dalam pendidikan keaksaraan ini diintegrasikan pula afirmasi bagi pemberdayaan perempuan melalui kewirausahaan perempuan berbasis potensi lokal, pendidikan kecakapan hidup bagi perempuan marginal, pendidikan keluarga berwawasan gender, dan pendidikan pencegahan tindak pidana perdagangan orang. "Pendidikan keaksaraan mengutamakan kemitraan dengan berbagai lembaga instansi terkait termasuk memanfaatkan struktur pemerintahan hingga level terbawah," katanya.

Hamid menyebutkan, pendidikan keaksaraan juga diselenggarakan bekerjasama denga berbagai mitra seperti tim penggerak PKK, Muslimat NU, Aisyiyah, Kowani, lembaga Al-kitab, perguruan tinggi, perusahaan, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan lainya.

Hamid mengatakan, mulai tahun 2009 Indonesia menerapkan pendidikan keaksaraan untuk pemberdayaan atau literacy initiative for empowerement bersama UNESCO. "Prinsipnya adalah mengintegrasikan kegiatan pemberantasan buta aksara dengan kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan pelestarian lingkungan hidup. Untuk itu, fokus pendidikan keaksaraan mulai tahun 2010 nanti adalah pendidikan keaksaraan berbasis pemberdayaan masyarakat," imbuhnya.***

Sumber: Pers Depdiknas

read more...

TIK sebagai Bagian Budaya Para Pendidik


TIK sebagai Bagian Budaya Para Pendidik


Yogyakarta, Rabu (9 Desember 2009) –

Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) telah memasukkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ke dalam salah satu program prioritasnya. TIK dianggap memiliki peran besar dalam upaya memperluas akses dan meningkatkan mutu pendidikan. TIK memungkinkan terjadinya proses belajar efektif, menyediakan akses pendidikan untuk semua, memfasilitasi terjadinya proses belajar kapan saja dan di mana saja.

Sekretaris Jenderal Depdiknas Dodi Nandika mengatakan, pemanfaatan TIK hendaknya tidak hanya berkutat pada penyediaan perangkat keras saja. Menurut dia, TIK hendaknya diletakkan sebagai aspek kultur dan budaya para pendidik. "Tantangan terbesar kita bukan pada perangkat keras dan jaringan, tetapi bagaimana budaya TIK menjadi bagian dari para guru kita dalam memberikan proses-proses pembelajaran di kelas - kelas," katanya saat mewakili Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) pada pembukaan International Symposium On Open, Distance, and E-Learning (ISODEL) 2009 di Hotel Sheraton, Yogyakarta, Rabu (9/12/2009).

Membacakan sambutan tertulis Mendiknas, Dodi menyampaikan, pemanfaatan TIK untuk pendidikan terjadi melalui empat tahapan yaitu konektivitas, transaksi, kolaborasi, dan transformasi. Pemerintah, kata dia, telah dan akan terus memfasilitasi terjadinya konektivitas, salah satunya melalui Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas). Dia menyebutkan, saat ini Jardiknas telah menghubungkan 25.382 titik yang terdiri atas lebih dari 18.080 sekolah jenjang SD, SMP, SMA/SMK, dan 363 perguruan tinggi, 939 kantor dinas pendidikan di tanah air, serta 6.000 guru. "Ke depan jumlah ini masih akan bertambah," katanya.

Sementara, lanjut Dodi, pada tahap transaksi, pemanfaatan TIK akan memberikan akses dan kemudahan terjadinya pertukaran dan kesempatan berbagi pengetahuan antar berbagai pihak dalam komunitas pendidikan. Kolaborasi merupakan tahapan berikutnya dalam pemanfaatan TIK untuk pendidikan. "Pemanfaatan TIK dalam pendidikan tidak pernah luput dari jaringan kerja sama yang kuat dalam bentuk jejaring atau konsorsium pendidikan yang melibatkan berbagai pihak dan sektor," katanya.

Adapun pada tahap transformasi, Dodi menjelaskan, TIK merupakan pengungkit dari proses transformasi pendidikan menuju pendidikan modern. "TIK membawa beragam perubahan dalam tradisi dan budaya pendidikan yang harus dicermati dengan bijak oleh berbagai pihak yang terlibat," katanya.

Dodi mengatakan, dengan TIK, perguruan tinggi diharapkan dapat bertransformasi menjadi perguruan tinggi kelas dunia, dan sekolah-sekolah menjadi sekolah berstandar internasional yang memiliki daya saing dalam percaturan pendidikan tingkat global. "Keberhasilan proses transformasi budaya pendidikan di tanah air akan tercapai jika TIK tidak ditempatkan sebagai teknologi  yang kosong. Untuk itu, diperlukan konten yang mengisi teknologi tersebut, serta sumber daya manusia terutama guru yang terampil memanfaatkan teknologi secara tepat, sehingga peningkatan kualitas pembelajaran dapat dicapai," katanya.

Dodi menambahkan, sejak tahun 2008 Depdiknas telah berkolaborasi dengan Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) dalam menyediakan konektivitas untuk sekolah melalui Program Desa Berdering. Sinergi antara program desa berdering dan Jardiknas saling melengkapi. "Program Desa Berdering  memperkuat dengan telepon, kami memperkuat sekolah dengan jaringan internetnya, sehingga guru - guru, siswa - siswa, dapat belajar dari internet dibackup oleh Jardiknas. Mudah - mudahan makin sempit desa - desa yang tidak dapat diakses oleh jaringan telekomunikasi. Ini sangat penting, bukan hanya di pendidikan, tetapi berbagai aspek kehidupan seperti hubungan individu, perdagangan transaksi, dan sosial," katanya.

Menjawab pertanyaan wartawan usai acara, Dodi mengatakan, pelaksanaan program TIK yang tertuang pada rencana strategis (Renstra) Depdiknas 2004 - 2009 ini didanai murni dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Di sisi lain, pemerintah terbuka dalam menjalin kerja sama dengan pihak manapun. "Kami tidak sama sekali mengandalkan bantuan luar negeri. Adapun dalam kerja sama kami welcome," ujarnya.

Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan Depdiknas Lilik Gani menyampaikan, terkait Program 100 Hari Depdiknas untuk menyediakan konektivitas TIK bagi 17.500 sekolah, per 8 Desember 2009 telah terhubung 17.324 titik. Dia merinci, sebanyak 8.307 jenjang SD, 5.284 SMP, 1.586 MI, dan 2.147 MTs. "Jadi sudah 98,99 persen," katanya.

Lebih lanjut Lilik menyebutkan, jika digabung dengan sebanyak 7.222 titik di jenjang SMA/MA/SMK total yang terkoneksi sebanyak 24.546 titik. "Program 100 Hari hanya untuk SD dan SMP sederajat," ujarnya.***

Sumber: Pers Depdiknas

read more...

TIK sebagai Bagian Budaya Para Pendidik


TIK sebagai Bagian Budaya Para Pendidik


Yogyakarta, Rabu (9 Desember 2009) –

Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) telah memasukkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ke dalam salah satu program prioritasnya. TIK dianggap memiliki peran besar dalam upaya memperluas akses dan meningkatkan mutu pendidikan. TIK memungkinkan terjadinya proses belajar efektif, menyediakan akses pendidikan untuk semua, memfasilitasi terjadinya proses belajar kapan saja dan di mana saja.

Sekretaris Jenderal Depdiknas Dodi Nandika mengatakan, pemanfaatan TIK hendaknya tidak hanya berkutat pada penyediaan perangkat keras saja. Menurut dia, TIK hendaknya diletakkan sebagai aspek kultur dan budaya para pendidik. "Tantangan terbesar kita bukan pada perangkat keras dan jaringan, tetapi bagaimana budaya TIK menjadi bagian dari para guru kita dalam memberikan proses-proses pembelajaran di kelas - kelas," katanya saat mewakili Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) pada pembukaan International Symposium On Open, Distance, and E-Learning (ISODEL) 2009 di Hotel Sheraton, Yogyakarta, Rabu (9/12/2009).

Membacakan sambutan tertulis Mendiknas, Dodi menyampaikan, pemanfaatan TIK untuk pendidikan terjadi melalui empat tahapan yaitu konektivitas, transaksi, kolaborasi, dan transformasi. Pemerintah, kata dia, telah dan akan terus memfasilitasi terjadinya konektivitas, salah satunya melalui Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas). Dia menyebutkan, saat ini Jardiknas telah menghubungkan 25.382 titik yang terdiri atas lebih dari 18.080 sekolah jenjang SD, SMP, SMA/SMK, dan 363 perguruan tinggi, 939 kantor dinas pendidikan di tanah air, serta 6.000 guru. "Ke depan jumlah ini masih akan bertambah," katanya.

Sementara, lanjut Dodi, pada tahap transaksi, pemanfaatan TIK akan memberikan akses dan kemudahan terjadinya pertukaran dan kesempatan berbagi pengetahuan antar berbagai pihak dalam komunitas pendidikan. Kolaborasi merupakan tahapan berikutnya dalam pemanfaatan TIK untuk pendidikan. "Pemanfaatan TIK dalam pendidikan tidak pernah luput dari jaringan kerja sama yang kuat dalam bentuk jejaring atau konsorsium pendidikan yang melibatkan berbagai pihak dan sektor," katanya.

Adapun pada tahap transformasi, Dodi menjelaskan, TIK merupakan pengungkit dari proses transformasi pendidikan menuju pendidikan modern. "TIK membawa beragam perubahan dalam tradisi dan budaya pendidikan yang harus dicermati dengan bijak oleh berbagai pihak yang terlibat," katanya.

Dodi mengatakan, dengan TIK, perguruan tinggi diharapkan dapat bertransformasi menjadi perguruan tinggi kelas dunia, dan sekolah-sekolah menjadi sekolah berstandar internasional yang memiliki daya saing dalam percaturan pendidikan tingkat global. "Keberhasilan proses transformasi budaya pendidikan di tanah air akan tercapai jika TIK tidak ditempatkan sebagai teknologi  yang kosong. Untuk itu, diperlukan konten yang mengisi teknologi tersebut, serta sumber daya manusia terutama guru yang terampil memanfaatkan teknologi secara tepat, sehingga peningkatan kualitas pembelajaran dapat dicapai," katanya.

Dodi menambahkan, sejak tahun 2008 Depdiknas telah berkolaborasi dengan Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) dalam menyediakan konektivitas untuk sekolah melalui Program Desa Berdering. Sinergi antara program desa berdering dan Jardiknas saling melengkapi. "Program Desa Berdering  memperkuat dengan telepon, kami memperkuat sekolah dengan jaringan internetnya, sehingga guru - guru, siswa - siswa, dapat belajar dari internet dibackup oleh Jardiknas. Mudah - mudahan makin sempit desa - desa yang tidak dapat diakses oleh jaringan telekomunikasi. Ini sangat penting, bukan hanya di pendidikan, tetapi berbagai aspek kehidupan seperti hubungan individu, perdagangan transaksi, dan sosial," katanya.

Menjawab pertanyaan wartawan usai acara, Dodi mengatakan, pelaksanaan program TIK yang tertuang pada rencana strategis (Renstra) Depdiknas 2004 - 2009 ini didanai murni dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Di sisi lain, pemerintah terbuka dalam menjalin kerja sama dengan pihak manapun. "Kami tidak sama sekali mengandalkan bantuan luar negeri. Adapun dalam kerja sama kami welcome," ujarnya.

Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan Depdiknas Lilik Gani menyampaikan, terkait Program 100 Hari Depdiknas untuk menyediakan konektivitas TIK bagi 17.500 sekolah, per 8 Desember 2009 telah terhubung 17.324 titik. Dia merinci, sebanyak 8.307 jenjang SD, 5.284 SMP, 1.586 MI, dan 2.147 MTs. "Jadi sudah 98,99 persen," katanya.

Lebih lanjut Lilik menyebutkan, jika digabung dengan sebanyak 7.222 titik di jenjang SMA/MA/SMK total yang terkoneksi sebanyak 24.546 titik. "Program 100 Hari hanya untuk SD dan SMP sederajat," ujarnya.***

Sumber: Pers Depdiknas

read more...

ITB Borong Gelar OSN-PTI


ITB Borong Gelar OSN-PTI


Jakarta, Rabu (9 Desember 2009) –

Institut Teknologi Bandung (ITB) memborong gelar pada Olimpiade Sains Nasional - Perguruan Tinggi Indonesia (OSN-PTI) 2009. Sebanyak delapan dari sembilan peserta yang masuk ke babak grand final adalah mahasiswa ITB. Mereka berjaya di semua bidang yang dilombakan, yakni Fisika, Kimia, dan Matematika.

Pemenang bidang Fisika semua diraih oleh mahasiswa ITB. Pemenang pertama adalah Andhika Putra, pemenang kedua Firmansyah Khasim, dan pemenang ketiga Radius Nagassa, SSD. Para mahasiswa ITB juga memborong semua penghargaan untuk bidang Kimia. Pemenang pertama adalah Boanerges Thendi Surya, pemenang kedua Citra Deliana, dan pemenang ketiga Aulia Sukma.

Sementara, untuk bidang Matematika dua mahasiswa ITB menjadi pemenang pertama dan kedua. Pemenang pertama adalah R. Akbar, W.K  dan pemenang kedua adalah Hendra H.C, sedangkan pemenang ketiga diraih oleh mahasiswa Universitas Indonesia, Ahmad Maimun.

"Hari ini kita menghasilkan, menghadiri, mendampingi, dan memberikan ucapan selamat kepada adik - adik kita yang ikut membangun budaya penelitian dan budaya mengembangkan ilmu pengetahuan baru," kata Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh pada acara malam penganugerahan pemenang OSN-PTI 2009 di Depdiknas, Jakarta, Rabu (9/12/2009).

Para pemenang berhak mendapatkan hadiah. Pemenang pertama, kedua, dan ketiga masing - masing mendapatkan hadiah Rp 7,5 juta, Rp 5 juta, dan Rp 2,5 juta. Tambahan hadiah Rp 10 juta diberikan kepada pemenang terbaik dari babak grand final.

Untuk perguruan tinggi asal peserta grand final mendapatkan dana pembinaan dari PT.Pertamina. Pemenang pertama mendapatkan Rp 100 juta, pemenang kedua Rp 75 juta, dan pemenang ketiga Rp 50 juta.

Pelaksana Teknis Abdul Haris mengatakan, materi soal yang diujikan kepada peserta adalah standar untuk masuk ke jenjang S3. Peserta, kata dia, diminta menyelesaikan soal dengan membuat problem statement, kemudian memprediksi jawaban melalui observasi dan terakhir membuat suatu kesimpulan yang dipaparkan pada babak semifinal dan final. "Jadi di sini sangat dibutuhkan peran perguruan tinggi untuk membina mahasiswa," katanya.          

Pada even tahunan yang diselenggarakan untuk kedua kalinya ini diikuti oleh sebanyak 8.000 mahasiswa dari puluhan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Abdul mengatakan, melalui seleksi tingkat daerah terpilih 99 peserta lalu diseleksi lagi menjadi 27 peserta dan menghasilkan sembilan peserta babak grand final. "Ajang tingkat nasional ini akan diangkat ke level internasional. Kita sudah melakukan penjajagan untuk tingkat regional," katanya.

Haris berharap, melalui OSN-PTI terjadi peningkatan kualitas mahasiswa, dosen, dan universitas. Mendapatkan inovasi baru dari bidang Matematika, Fisika, dan Kimia untuk bisnis ke depan. "Yang terakhir terbangun semangat nasionalisme," katanya.***

Sumber: Pers Depdiknas

read more...
 

Jumlah Tamu

Follow us on Twitter

Followers

smadav antivirus indonesia

MyFacebook

Science (Global Warming) - TOP.ORG

Gabung ke kombes.com

About Me

Name : Damar S.A lived in Central Java, Kebumen, Ambal, PRASUTAN. enjoyed !

Blog Archive

Damar's BLOG 2 Glow-Light-Woodmag is Modified by i-Biyan.com designed ipieton